Refleksi Pendidikan (1) : Ing Ngarso Sung Tuladha

Kita semua tahu bahwa dunia pendidikan memiliki semboyan yang sampai saat ini masih digunakan yaitu :

“Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”

Semboyan tersebut dicetuskan oleh salah satu toko ikonik dunia pendidikan Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa yang dapat diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai berikut :

“Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat dan di belakang memberikan daya kekuatan” (id.wikiquote.org)

Mungkin sebagian besar atau bahkan semua orang yang berprofesi di bidang pendidikan telah akrab dengan semboyan tersebut. Jika diingat-ingat lagi masa pendidikan tingkat Sekolah Dasar (SD) juga telah diajarkan makna semboyan tersebut sebagai pedoman bagi siswa untuk memberi arah pada diri mereka sendiri tentang arti pendidikan.

Pada kesempatan kali ini, saya mencoba merefleksikan kembali semboyan tersebut pada aspek yang lebih luas. Apakah benar semboyan tersebut masih relevan dengan dunia pendidikan zaman kemajuan teknologi seperti sekarang ini ? Pada bagian pertama ini akan membahas tentang “Ing ngarso sung tuladha”.

“Di depan memberi contoh”, sekilas kebanyakan orang mengartikan makna kalimat tersebut ditujukan untuk para pemangku jabatan seperti kepala sekolah, wakil kepala sekolah atau jabatan baik yang langsung maupun tak langsung bersentuhan dengan dunia pendidikan. Tepat sekali pemaknaan tersebut, seorang pemimpin memang diharuskan menjadi contoh atau teladan bagi orang yang dipimpinnya, tetapi coba kita ulas apakah memang “ing ngarso sung tuladha” hanya untuk pemimpin ?

Refleksi untuk guru

Dari hasil wewancara langsung ke banyak peserta didik di kelas dengan pertanyaan : “siapa yang ingin menjadi seorang guru ?”. Sebagian besar bahkan semua dari mereka tidak ada yang mengangkat tangan. “Kenapa ?”, pertanyaan lanjutan yang biasanya saya lontarkan. Salah satu jawaban dari peserta didik adalah, “Sulit pak jadi seorang guru, harus pinter dan menjadi sorotan murid dalam setiap tingkah lakunya”.

Menurut saya tepat sekali apa yang dikatakan oleh peserta didik tersebut, karena seorang guru merupakan salah satu ikon bagi peserta didik. Setiap apa yang dilakukan oleh seorang guru merupakan perilaku yang “digugu lan ditiru” (dipercaya, dipatuhi dan patut diteladani). Dibutuhkan seseorang dengan jiwa pemimpin dan siap berperilaku baik untuk menjadi seorang guru.

Pemerintah melalui dinas pendidikan juga telah menetapkan 4 standar yang wajib dimiliki oleh seorang guru melalui UU No. 14 Th. 2005 Pasal 8. Sifat kepemimpinan guru tercermin pada keempat standar kompetensi tersebut, yaitu : Pedagogik, Kepribadian, Profesional dan Sosial.

Refleksi untuk tenaga kependidikan

Tenaga kependidikan merupakan bagian penting dari sebuah lembaga pendidikan. Mereka berfokus kepada admnistrasi sekolah serta berbagai layanan yang juga bersentuhan langsung dengan pelanggang yaitu peserta didik dan orang tua. Jiwa kepemimpinan serta menjadi teladan sangat mutlak dibutuhkan bagi seorang tenaga kependidikan.

Aspek-aspek kepribadian yang baik menjadi faktor utama bagi tenaga kependidikan untuk mengamalkan semboyan ing ngarso sung tuladha tersebut. Misalnya saja dalam memberikan layanan informasi tentang administrasi sekolah kepada orang tua, apabila seorang tenaga kependidikan kurang bisa berkomunikasi, maka bisa dipastikan orang tua akan merasa kecewa tidak hanya dengan personalnya tetapi dengan lembaga sekolahnya juga. Karena harapan orang tua mereka mendapatkan layanan terbaik melalui tenaga kependidikan tersebut.

Sehingga sekali lagi, seorang tenaga kependidikan merupakan salah satu bentuk manivestasi teladan di dunia pendidikan. Paling tidak daya juang terhadap perwujudan sikap dan perilaku yang baik menjadi tantangan tersendiri dengan cara memberikan teladan bagi orang-orang sekitarnya.

Refleksi untuk peserta didik

Sebagai seorang peserta didik menjadi teladan bagi orang lain memang belum lazim, karena pada saat bersekolah seorang peserta didiklah yang memerlukan teladan dari orang lain khususnya teladan dari guru, orang tua atau tokoh-tokoh terkenal lainnya yang mereka kagumi. Hal tersebut tepat sekali, karena semboyan ing ngarso sung tuladha bagi peserta didik atau manusia pada kategori anak-anak adalah saat-saat dimana mereka memerlukan teladan yang baik.

Tetapi tidak hanya meneladani orang lain saja, peserta didik mestinya memiliki benih-benih keteladanan dalam dirinya yang selalu harus dipupuk dan ditumbuhkan melalui proses pembelajaran. Hal tersebut akan sangat nampak pada saat berkomunitas dalam satu kelas, terdapat peserta didik yang baik dan ada pula yang sedang berproses menjadi baik. Pastinya peserta didik yang telah memiliki sikap yang baik memiliki prinsip bahwa perilaku dalam hidupnya adalah teladan bagi teman-temannya.

Pihak sekolah tentunya telah memberikan fasilitas untuk menumbuhkan sikap keteladanan tersebut, misalnya adanya pengurus kelas, organisasi kesiswaan serta kepanitian lain yang melibatkan peran serta peserta didik. Mereka yang terlibat tentu bukan sembarang orang, pastinya yang memiliki keteladan dari kemampuan dan sikap dibandingkan dengan yang lain. Hal tersebut merupakan refleksi semboyan ing ngarso sung tuladha bagi peserta didik.

Refleksi untuk orang tua

Menurut saya refleksi dari semboyan ing ngarso sung tuladha bagi orang tua sudah sangat jelas. Orang tua merupakan keteladanan utama dari seorang peserta didik. Sifat-sifat dan perilaku seorang anak pasti tidak jauh dari orang tuannya. Sehingga sangatlah penting untuk kembali menyadari bahwa peran sebagai orang tua dalam pendidikan anak adalah yang utama khususnya dalam hal meneladani sikap-sikap yang baik.

Hal klasik yang sering muncul dari permasalahan pendidikan adalah karakter malas, suka mengeluh dan kurang tangguh dalam berjuang. Untuk menghilangkan karakter negatif tersebut memang tidak semudah membalik tangan bahkan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) yang kita miliki memiliki mental yang lebih rendah daripada dengan tenaga asing, dari Cina dan Jepang misalnya. Bukankah pada akhirnya masalah mental dan karakter tersebut menjadi permasalahan nasional ?

Tetapi saya yakin kekuatan mengubah bahkan menghilangkan karakter negatif persentase terbesar bersumber dari keluarga dan keteladanan dari orang tua. Ada sebuah motto dari salah satu penggagas dan pemerhati anak yaitu “Indonesia strong from home”, yang artinya Indonesia akan menjadi negara yang kuat, tangguh diawali dari rumah. Sekali lagi saya mengajak kepada segenap orang tua untuk menyadari kembali bahwa dengan kita mendapat gelar orang tua otomatis ing ngarso sung tuladha juga melekat pada diri kita.

Translate »
PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU