Dualisme Kurikulum SMK Antara Spesialis atau Generalis

Dalam rangka mempersiapkan lulusan siap kerja dan berkompeten di bidangnya, SMK Krian 1 Sidoarjo menyelenggarakan workshop bertema penyelarasan kurikulum, strategi pembelajaran, sarana prasarana, dan kompetensi guru di aula sekolah pada hari Selasa, 24 September 2019.

Sebagai peserta workshop adalah seluruh dewan guru SMK Krian 1 serta 40 perwakilan perusahan besar yang selama ini bekerjasa dengan SMK Krian 1. Pemateri utama yaitu Kepala Subdit Penyelarasan Kejuruan dan Kerjasa Industri (Lasjurin), Direktorat Pembina SMK, Kemendikbud, Saryadi, ST, MBA. Dalam menyampaikan materi, beliau didampingi oleh perwakilan delegasi Muaklek Technical College Thailand, Mr. Rachin Potito, Pembina Yayasan Pembangunan Pendidikan Krian, Ririn Andriana, ST, MM dan Kepala SMK Krian 1, Dhini Mekarasari, S.Pd, M.MPd

Dalam sesi Tanya jawab, pertanyaan muncul pertama kali dari Mitra Dunia Usaha Dunia Industri dari PT. Java Pacific. “Pada dasarnya kami pihak industri menginginkan lulusan yang kompeten di bidang usaha yang kami laksanakan”, pernyataan tersebut mengawali pertanyaan pertama dan dilanjutkan benturan kenyataan bahwa pendidikan SMK dinilai masih bersifat umum, “sedangkan pendidikan SMK sekarang ini masih bersifat umum, porsi mapel (red mata pelajaran) non kejuruan masih banyak, apakah kurikulum SMK bisa dilakukan lebih spesifik pada bidang tertentu untuk mendukung kami pihak industri ?”

Pertanyaan pertama dalam acara tersebut mampu membungkam segenap yang hadir, karena memang kenyataan pada saat ini, porsi mapel non produktif dinilai masih cukup banyak, sehingga kesempatan untuk belajar lebih spesifik pada keahlian tertentu menjadi kurang. Mengacu pada Struktur Kurikulum SMK 2017 yang ditetapkan dengan SK Dirjen Dikdasmen No. 130/D/KEP/KR/2017, perbandingan persentase porsi mapel produktif dan non produktif rata-rata 60 : 40. Jika dipikir secara singkat hal tersebut merupakan dilema yang dihadapi dunia pendidikan khususnya SMK. Bagaimanapun lulusan sekolah kejuruan seharusnya mampu dan kompeten di bidang yang dibutuhkan oleh pihak industri, karena ujung tombak sumber daya manusia di industri secara umum adalah lulusan SMK.

Mengawali respon atas pertanyaan yang diajukan oleh pihak Java Pacific, Kasubdit Lasjurin tersebut membuat isitilah tentang dualisme pendidikan di SMK, “pertanyaan tadi merupakan dualisme pendidikan di SMK, yaitu antara spesialis atau generalis”. Melanjutkan jawabannya, “kurikulum SMK telah dibahas sedemikian rupa dan telah melalui proses yang sangat panjang sebelum diterbitkan, banyak aspek yang menjadi pertimbangan sehingga terbentuklah kurikulum yang sekarang dan yang utama adalah pembentukan SDM yang utuh dari segi spiritual, pengetahuan dan ketrampilan”. Dan secara mendasar Kasubdit Lasjurin juga menyampaikan tentang pilihan untuk menjadi apa di saat peserta didik menjadi lulusan SMK, sehingga kurikulum SMK masih bersifat terbuka membuka peluang belajar seluas-luasnya dan secara mendalam bagi peserta didik untuk menggali ilmu pada bidang apapun. Porsi kejuruan scara spesifik juga telah jelas tertuang dalam spectrum kurikulum bidang keahlian masing-masing.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala SMK Krian 1 juga menambahkan jawaban tentang pelaksanaan kelas industri, “Solusi yang dapat menjembatani kesenjangan kebutuhan SDM industri dan kurikulum dengan adanya kelas industri, jika perusahaan bapak ingin melaksanakan di sekolah kami, silahkan kami buka kesempatan lebar-lebar”. Menurut Aji, Yoto dan Widiyati (2017) Kelas industri merupakan program kerja sama antara industri dengan satuan pendidikan kejuruan dalam menintegrasikan pembelajaran di
sekolah dengan dunia industri. Kelas industri juga merupakan sebagai salah satu pola penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang memadukan antara sistem pendidikan sekolah dan sistem yang ada di Industri secara relevan.
Untuk mengurangi kesenjangan yang terjadi antara lembaga pendidikan dan industri, maka dibutuhkan kerjasama yang saling menyesuaikan, sehingga pendidikan yang diselenggarakan di sekolah dapat mengikuti perkembangan zaman dan menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan adanya kerjasama industri ini proses pendidikan yang ada disekolah disesuaikan dengan kebutuhan industri. Hal ini diharapkan keterserapan tamatan di dunia dan terarah untuk mencapai penguasaan kompetensi siswa sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

SMK Krian 1 membuka lebar-lebar kesempatan bagi industri yang ingin menerapkan kelas industrinya, sehingga spesifik keahlian tertentu yang dibutuhkan oleh industri dan yang belum tercakup dalam kurikulum dapat difasilitasi. Sebagai contoh saat ini SMK Krian 1 sudah terdapat kelas Axioo, salah satu program kelas industri yang berskala nasional dan sudah berjalan tahun keempat. 

Dapat disimpulkan jawaban dari dualisme pendidikan SMK memang tergantung dari kebutuhan pasar. Generalis tetap dibutuhkan karena bentuk tanggung jawab pembentukan SDM yang secara utuh sedangkan spesialis juga penting mengingat kebutuhan SDM di industri harus spesifik keahlian tertentu, tinggal bagaimana porsi dan bentuk kemasan yang mampu diolah hasil kerjasama sekolah dan dunia usaha dunia industri.

Translate »
PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU