Kurikulum Pembelajaran Mbah Kholil Bangkalan Kepada Kyai Hasyim Asy’ari

Pembelajaran jaman dahulu memang sangat berbeda dengan pembelajaran sekarang. Terlebih dari segi kurikulum yang ada pada dunia pendidikan yang mengalami perubahan lebih baik. Siswa yang dihadapi dalam dunia pendidikan sekarang pun juga sangat berbeda dengan siswa pada jaman dahulu.

Adapun satu sisi yang sangat membedakan siswa pada jaman dahulu dengan siswa pada era millenial, yaitu dari sisi ketawaduk’an kepada sang guru. Satu pelajaran yang bisa kita ambil dan tiru dari guru besar kita sewaktu mencari ilmu, KH. Hasyim Asy’ari. Beliau adalah salah satu santri dari Syaikhona Kholil atau yang biasa kita sebut dengan panggilan mbah Kholil. Semasa muda mbah Hasyim menuntut ilmu agama di tempat mbah Kholil, Bangkalan , Madura. Beliau tergolong santri yang sangat patuh terhadap sang guru. Karena ketawaduk’an beliau, sang guru pun akhirnya mempunyai pembelajaran yang berbeda untuk mbah Hasyim. Pembelajaran berbeda itu bukan dari segi ilmu yang mbah Kholil berikan, tapi dari perintah keseharian mbah Kholil yang diberikan kepada mbah Hasyim. Karena sangan tawaduknya mbah Hasyim kepada mbah Kholil, beliau tidak pernah membantah apapun perintah yang diberikan oleh sang guru.

Pada saat para santri-santri mbah Kholil berkumpul mau melaksanakan kegiatan mengaji, mbah Kholil justru melakukan hal yang berbeda kepada mbah Hasyim. Selalu ada saja perintah sang guru ketika mbah Hasyim akan melaksanakan ngaji. Perintah mulai dari mencari kayu, menimba sumur untuk mandi, dll. Perintah-perintah itupun selalu berakhir sampai kegiatan mengajinya sudah selesai. Jadi mbah Hasyim jarang mengikuti ngaji yang di laksanakan oleh santri-santri yang lain, karena selalu ada perintah yang diberikan sang guru saat melakukan kegiatan ngaji. Tapi mbah Hasyim tidak pernah sekalipun membantah ataupun mengeluh perintah dari sang guru. Yang ada pada diri beliau hanya tawaduk dan mengabdi penuh kepada sang guru meskipun beliau jarang dapat ilmu langsung dari mengajinya tersebut.

Suatu ketika ada pesan yang diberikan sang guru kepada mbah Hasyim. Pesan itu adalah ketika mbah Hasyim sudah memiliki anak, sebelum berumur 3 hari sak anak harus diajak ke rumah mbah Kholil. Perintah itupun langsung di iya kan oleh sang murid. Singkat cerita, ketika istri mbah Hasyim melahirkan anak, sang anak langsung diajak ke rumah mbah Kholil. Saat itu cuaca sedang buruk, tapi mbah Hasyim tidak sekalipun mengurungkan niat untuk pergi mengajak sang anak ke rumah mbah Kholil. Anehnya ketika sudah sampai di rumah sang guru, mbah Hasyim langsung disuruh pulang oleh mbah Kholil. Tanpa apa perlu apa-apa, rupanya sang guru hanya mengetes ketawaduk’an sang muridnya tersebut. Meskipun jarang sekali mendapat ilmu langsung dari mbah Kholil, tapi mbah Hasyim adalah salah satu murid yang paling menguasai ilmunya sang guru. Semua itu tak lepas dari ketawaduk’an sang murid kepada guru. Meski jarang sekali mengaji langsung, tapi ilmu sang guru bisa transfer langsung kepada sang murid ibarat share it di jaman sekarang.

Itulah kisah adab seorang murid kepada sang guru yang bisa kita teladani. Kita sebagai generasi millenial harusnya lebih memiliki adab yang baik karena mayoritas semua kita adalah kaum terpelajar. Pelajaran yang bisa kita ambil di era modern seperti sekarang ini adalah “Apa bila kita tidak suka dengan mata pelajaran yang ada di sekolah, cobalah untuk tidak membenci guru pengampuhnya juga”.

Total Page Visits: 38368 - Today Page Visits: 3
PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU